Rugikan Bank Syariah Mandiri Rp 7,9 Miliar, Nayla Fadillah Divonis 16 Bulan

0
260
Rugikan Bank Syariah Mandiri (BSM) sebesar Rp 7,9 miliar, mantan Kacab BSM Padang Bulan, Nayla Fadillah Sembiring divonis hukuman 1 tahun 4 bulan dengan denda Rp 1 miliar subsider 2 bulan kurungan di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (4/4/2019) . TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Dijual Rumah

Buktipers.com – Medan

Rugikan Bank Syariah Mandiri (BSM) sebesar Rp 7,9 miliar, mantan Kacab BSM Padang Bulan, Nayla Fadillah Sembiring divonis hukuman 1 tahun 4 bulan dengan denda Rp 1 miliar subsider 2 bulan kurungan di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (4/4/2019)

Majelis Hakim yang diketuai Hakim Dominggus Silaban menjatuhi terdakwa dengan pasal pidana dalam Pasal 63 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor : 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

“Bahwa seluruh pertimbangan sudah memenuhi seluruh tuduhan primer. Maka Majelis hakim sependapat dengan jaksa. Bahwa terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan dengan hukuman 1 tahun 4 bulan dengan denda 1 miliar subsider 2 bulan,” terangnya di Cakra 5.

Hakim menyebutkan hal yang memberatkan terdakwa karena telah menghilangkan rasa kepercayaan nasabah terhadap Bank Mandiri Syariah.

“Hal yang meringankan karena terdakwa kooperatif selama persidangan dan berterus terang selama persidangan,” ungkapnya.

Hukuman ini jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kadlan Sinaga yang menuntut terdakwa dengan hukuman 2 tahun penjara dan denda 1 miliar.

Terdakwa sepanjang pembacaan tuntutan hanya tertunduk dan tak sama sekali memperlihatkan wajahnya kepada majelis hakim.

Seketika ketika pembacaan tuntutan sudah memasuki bacaan akhir, Hakim Ketua Dominggus meminta terdakwa untuk berdiri dan mendengarkan keterangan Hakim.

Langsung saja usai pembacaan putusan, Nayla tampak meneteskan air mata. Saat ditanya hakim apakah menerima putusan tersebut. Terdakwa menjawab “Menerima yang mulia,” cetusnya.

Seusai sidang, keluarga dari Nayla sudah menunggu di luar persidangan dan langsung saja memeluk ibu 38 tahun tersebut.

Saat digiring ke ruang tahanan sementara PN Medan, Nayla tak sedikitpun mau menanggapi putusan yang menimpa terhadap dirinya. Terdakwa hanya terdiam dan terus berjalan tanpa sepatah katapun.

Awal mula kasus penggelapan dana sebesar Rp 7,9 miliar ini dijelaskan Kadlan bahwa terdakwa asal Syah Kuala, Banda Aceh melakuakan aksinya pada bulan Februari 2012 di cabang pembantu Bank Syariah Mandiri Padang Bulan, Medan.

“Terdakwa dengan sengaja, membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS,” terangnya.

Terdakwa selaku Kacab BSM Padang Bulan, pada Februari 2012 telah menerima permohonan pembiayaan berupa pembiayaan 8 kegiatan yang membutuhkan biaya sekitar 8,1 miliar.

“Setelah menerima permohonan pembiayaan tersebut, sesuai SOP seharusnya setelah permohonan pembiayaan untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan yang diajukan calon nasabah kepada Cabang Pembantu BSM Padang Bulan, terlebih dahulu dilakukan tahap investigasi,” terangnya.

Namun, ternyata terdakwa dalam memproses delapan permohonan pembiayaan tersebut melakukan splitting (pemecahan) pembiayaan yaitu pemecahan pembiayaan dari satu pembiayaan menjadi beberapa pembiayaan.

“Setelah permohonan pembiayaan tersebut disetujui oleh terdakwa, dana-dana yang telah dicairkan dari sebelas pemohonan pembiayaan ke Kantor PT. Bank Syariah Mandiri Padang Bulan tersebut oleh terdakwa digunakan untuk membeli Kebun Karet di wilayah Silingom-linggom, Padangsidempuan bersama teman temannya,” tuturnya.

Terdakwa juga dengan sengaja telah merekayasa permohonan pembiayaan atas 8 nasabah guru-guru di Yayasan Pendidikan Islam Lufifah Zahira dengan total pembiayaan Rp 400 juta.

“Serta merekayasa pembiayaan 3 nasabah lainnya senilai 1,8 miliar dengan rincian Rp 300 Juta, Rp 900 juta, dan Rp 900 juta,” tutur Kadlan.

“Akibat perbuatan terdakwa selaku kepala cabang Pembantu BSM Padang Bulan yang menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan mengakibatkan Bank Syariah Mandiri mengalami kerugian sebesar Rp.7.955.667.792,” tutupnya.

Sumber : tribunnews.com