Salah Tangkap dan Dibui, Sri Dapat Ganti Rp 5 Juta, Sudah Adil?

0
169
Sri Mulyati. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Dijual Rumah

Buktipers.com – Semarang

Korban peradilan sesat, Sri Mulyati (43) akhirnya menerima uang Rp 5 juta dari negara sebagai bentuk keadilan terhadap apa yang sudah menimpanya. Namun apakah pundi rupiah itu sudah menunjukkan keadilan?

“Suka, sih, tapi ada kecewanya karena hanya sejumlah itu tapi nunggunya hampir 9 tahun,” kata Sri saat ditemui, Rabu (6/3/2019).

Kata-kata tersebut mengawali ungkapan perasaan Sri saat ditanya terkait sudah cairnya ganti rugi dari negara itu. Ia bercerita di warung kecil tempatnya bekerja menggoreng keripik peyek. Sesekali ia tersenyum berusaha menutupi kesedihannya dengan rasa syukur.

“Uangnya sudah habis buat bayar utang, terimanya kemarin (Selasa),” tandas ibu 4 anak itu.

Perjuangannya memperoleh keadilan itu didampingi oleh LBH Mawar Saron Semarang sejak awal. Sri mengaku berjuang karena nominal tersebut menurutnya tidak sedikit, namun yang lebih penting adalah perjuangan keadilan untuk mendapat haknya.

“Sulitnya, kayak dipingpong, sampai ke Jakarta juga,” ujarnya.

Nestapa yang menimpa Sri berawal 8 Juni 2011 saat dia dituduh melakukan tindak pidana perdagangan anak yaitu mempekerjakan anak di bawah umur di sebuah karaoke, padahal Sri hanya seorang kasir di karaoke itu. Bahkan saat itu dan ia berada di rumah ketika polisi menggerebek tempat kerjanya dan diminta datang.

Dalam persidangan Pengadian Negeri Semarang menjatuhkan huuman 8 buan penjara dan denda Rp 2 juta subsider 2 bulan penjara. Pengadilan Tinggi Semarang kemudian memperberat hukuman menjadi 1 tahun 2 bulan dan denda Rp 2 juta.

LBH Mawar Saron selaku kuasa hukum mengajukan kasasi hingga akhirnya MA membebaskan Sri setelah 13 bulan dibui. Berbekal putusan bebas itu, pihak Sri menuntut ganti rugi ke negara. Kemudian hakim menghukum negara membayar Rp juta kepada Sri dan mengembalikan uang denda Rp 2 juta yang sudah dibayar Sri.

“Jadi Rp 5 juta itu dari negara, yang Rp 2 juta itu memang uang saya,” tandas Sri.

Selesai? Belum, karena ternyata dampak dia dibui sangat besar bagi keluarganya. Tiga dari 4 anak perempuannya harus putus sekolah dan membantu mencari nafkah karena Sri adalah tulang punggung sedangkan suaminya, Hendra Wijaya hingga kini hanya bisa di rumah karena Diabetes.

“Yang sekolah hanya 1 sekarang SMK kelas 3, saya pertahankan itu,” pungkas Sri.

Ia juga merelakan putri keduanya menikah di usia belia karena ia cukup lama mendekam di bui tanpa penghasilan. Setelah bebas dan memperjuangkan haknya, Sri lanjut pontang-panting memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ini Sri bekerja di 3 tempat sekaligus. Pukul 05.00 sampai 12.00 membantu di rumah makan, kemudian pindah membantu bersih-bersih di daerah Gombel sampai jam 16.00, kemudian ke warung di Jalan Cimanuk V untuk menggoreng peyek hingga jam 21.00.

“Di rumah numpang tidur saja, haha. Ya sampai rumah bersih-bersih sama bantu persiapan sekolah anak. Tidur paling 2 sampai 3 jam. Pendapatan dari 3 tempat itu total ya sekitar Rp 2,5 juta sebulan,” katanya.

Selain itu, Sri dan anak terkecilnya ternyata sedikit trauma dengan polisi. Sejak Sri dibui, anaknya selalu takut ketika melihat polisi, dan menurut Sri hingga kini perasaan itu masih ada.

“Masih trauma. Hari Senin (4/3) kemarin datang orang Polres ke rumah, saya masih kerja, anak langsung telepon tanya ada apa lagi. Polisinya juga tidak menjelaskan katanya saya sudah tahu,” ujarnya.

Kepanikan itu mereda setelah Sri pulang dan menghubungi polisi yang datang ke rumahnya karena meninggalkan nomor telepon. Petugas itu datang untuk mengabarkan uang dari negara sudah cair. Ia pun minta didampingi oleh LBH Mawar Saron sebagai saksi untuk menerima uang tersebut di Mapolrestabes Semarang kemarin.

“Ya kalau dipikir ya tidak adil sebenarnya, dipenjara 1 tahun, sehari misal bisa punya penghasilan Rp 100 ribu, kan banyak. Anak-anak jadi tidak sekolah, jadi berantakan,” terangnya sambil memalingkan muka berusaha menahan air mata.

Sumber : detik.com