Sangsi Adat Ninik Mamak Koto Padang Diluar Batas Kewajaran.

0
1125
IMG-20180122-WA0119
Dijual Rumah

Buktipers.com – Dharmasraya (Sumbar)

Sangsi adat diberikan kepada cucu kemenakan berada di Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat, dianggap telah melenceng dari norma adat sesungguhnya yakni, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Pasalnya, Kamanakan Barajo Ka Mamak. Mamak Barajo Ka Penghulu, Penghulu Barajo Ka Mufakat, Mufakat Barajo atas kebenaran.” Tidak lagi menjadi acuan mencari sebuah kebenaran. Tetapi dianggap sebagai landasan untuk menjatuhkan hukuman tanpa ada negosiasi dan pembelaan dari cucu kemenakan yang di anggap salah. Padahal, belum tentu kesalahan dilakukan oleh cucu kemenakan melenceng dari norma adat.

Hal ini yang dirasakan Apri Redi, Warga Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, dijatuhi hukuman tidak setimpal, oleh Ninik Mamak setempat dengan membayar hutang kepada Nagari tempat tinggalnya Satu Ekor Kerbau. Karena telah dianggap bersalah menumbang kayu berada di kuburan nenek moyang mereka.

Padahal, kayu ditumbang oleh Apri Redi tersebut berada di dalam lokasi tanah ladangnya, yang telah di beli secara resmi dan dilengkapi surat jual beli, kepada pemilik tanah sebelumnya.

Mirisnya ketika Ia membersihkan tanah ladangnya miliknya itu, dengan menumbang kayu, semak,agar bersih dan akan dijadikan kebun, tiba-tiba datang sekelompok orang, menuduh Apri Redi menumbang kayu pelindung kuburan nenek moyang mereka.

Tentunya Apri Redi merasa kaget, dan bertanya terhadap kesalahan dirinya. Karena lahan tersebut telah dibelinya beberapa tahun yang lalu. Alhasil dari dakwaan diberikan sekelompok orang tersebut, dibawa kepada Ninik Mamak. Namun ketika berhadapan dengan pemangku adat, “Nan Badado Lapang, Ba Alam Leba,” Nagari tersebut tetap saja dirinya dinyatakan bersalah, tanpa bisa membantah, atau melakukan pembelaan diri. Sudah berkali-kali dilakukan duduk bersama oleh pemangku adat tersebut, tetap saja Apri Redi dinyatakan bersalah, dan harus membayar hutang Satu Ekor Kerbau, tanpa diperbolehkan membantah, dan membela diri.

Dikarenakan adanya keganjilan terhadap hukuman diberikan kepada cucu kemenakan, tentunya penguasa Bumi Malayu, disebut Sri Rajo Maharajo, merupakan Ancang Nan Limo, Nagari Lareh Nan Tigo, menilai bahwasanya hukuman diberikan Ninik Mamak kepada cucu kemenakan bukan sebuah keputusan yang adil dan bijaksana. Hal ini tentunya akan menjadi preseden buruk dalam kampung. Karena kebesaran Ninik Mamak itu, terletak pada kearifannya dalam membuat keputusan. Bukannya ” Maampang Sampai Ka Langik, mambateh sampai ka subarang,” namun Ninik Mamak itu, manyalasai nan kusuik, mampajaniah nan karuah,” intinya jikalau ada kesalahan cucu kemanakan, ” Jikok gadang di pa ketek, jikok ketek dihabisi.” Bukan dijatuhi hukuman seberat ini.

“Kami atas nama Ancang Nan Limo, tentunya mempertanyakan hukuman atau sangsi adat apa, serta atas kesalahan apa dijatuhkan kepada cucu panakan. Apalagi, “Takapik indak bisa manggarik, kok marenggeh indak bisa bakukuak.” dalam artian ” Nan Bana Indak Buliah di Sabuik, Jikok salah indak dapek di pakatoan.” Apabila ini terlaksana, tentunya dapat memalukan bumi lareh nan tigo dimata orang lain. Maka dari itu, perlu dilakukan peninjauan ulang atas keputusan dibuat Ninik mamak Nagari Kito Padang, karena telah melakukan penetapan serta pemakaian adat yang salah. Apalagi kejadian ini, sudah melebar sampai kemana-mana, pungkas pewaris keturunan Ancang Nan Limo yang juga merupakan penguasa Ulayat di lareh nan tigo itu. (Syaiful Anif/Efrizal/Hen)