Seleksi Pengurus Kopdit Tao Toba Habiskan Puluhan Juta, Hasilnya Melanggar AD/ART dan Berbau Kolusi dan Nepotisme

0
429
Anggaran Rumah Tangga (ART) Koperasi Kredit Tao Toba Parapat.
Dijual Rumah

Buktipers.com – Simalungun (Sumut)

Akhirnya terkuak juga,walau panitia seleksi penerimaan pengurus baru untuk Koperasi Kredit Tao Toba Parapat, sudah berlalu tahun 2018 lalu.

Ternyata panitianya menghabiskan hampir Rp10 juta, dengan hasil seleksi yang merusak dan melanggar Anggaran Dasar (AD)/Anggaran Rumah Tangga (ART) serta hasilnyapun ‘berbau’ kolusi dan nepotisme.

Hal ini disampaikan salah seorang anggota Koperasi Tao Toba Parapat, BS (55), Kamis (4/7/2019), setelah menelusurinya hampir satu tahun lebih, terkait penerimaan pengurus yang katanya diuji, di PPU Parapat oleh tim penguji (panitia seleksi) antara lain, M Sinaga, R Berutu, J Manurung dan S Harianja, dimana peserta ujian sekitar 30 orang.

Adapun yang dilanggar dalam penerimaan dan dalam tahapan seleksi itu, diantaranya, dalam Anggaran Dasar Bab V tentang Pemilihan Pengurus Pasal 19 Ayat 5 disebut,  “Yang menjadi calon pengurus yang bersangkutan telah menjadi anggota baik selama 3 (tiga) tahun. Ayat 6 juga disebut harus dapat mengoperasikan komputer microsoft word dan excel”.

Padahal, ada dua orang yang dipaksakan lulus dalam ujian tulis tersebut, diantaranya, Sermauli Siallagan yang jarang menabung sejak tahun 2015, 2016 dan 2017, berarti yang bersangkutan tidaklah anggota baik.

Lalu atas nama Urbanus Nainggolan yang baru masuk jadi anggota Koperasi Tao Toba Parapat, tanggal 18 Maret 2017, dan langsung terpilih jadi Pengurus Kopersi Tao Toba Parapat, pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2017, di Confrensi Hall Parapat, bersamaan dengan Sermauli Siallagan.

Parahnya lagi, kedua nama ini (Urbanus dan Sermauli) saat ujian tertulis, semua hasil seleksi yang dinyatakan lulus berjumlah 15 orang kala itu tidak dibuat ujian praktek computer.

Dan anehnya, Sermauli Siallagan dan Urbanus Nainggolan kuat dugaan tidak lulus dalam ujian tertulis kala itu, namun dipaksakan lulus bertopengkan “kolusi dan nepotisme” dan sampai saat ini, Sermauli Siallagan diduga tidak bisa mengoperasikan komputer dan Urbanus tidak mahir mengoperasikan microsoft word dan excel, termasuk membuat laporan yang sesungguhnya. Lalu kenapa bisa Urbanus itu jadi bendahara koperasi ini? Ungkapnya heran.

Ternyata dugaan kolusi dan nepotisme ini, dikuatkan dengan pelanggaran AD/ART dimaksud, dan jika anggota Koperasi Tao Toba Parapat yang lain tidak percaya, silahkan cek nomor buku anggotanya (Urbanus Nomor BA: 6984 dan Sermauli Nomor BA: 4989).

Untuk itu, harapan kami supaya kedua orang tersebut didiskualifikasi dari posisi pengurus Koperasi Tao Toba Parapat, karena sangat jelas melanggar AD/ART dan mengusulkan supaya dilakukan pergantian pengurus kepada dua nama tersebut, dengan pengurus yang ikut seleksi. Terlebih pengurus lama yang sengaja ‘digulingkan’ dengan permainan saat pemiliah pengurus di RAT 2017 lalu, diantaranya Makin Sitanggang dari Stasi Motung dan M Manik Forhanger Stasi Repa, katanya.

Selanjutnya karena koperasi ini juga berbadan hukum, maka kepada pengurus yang ada sekarang jangan coba-coba bertindak dengan sesuka hati karena kami juga sudah banyak memiliki catatan terkait banyaknya rapat-rapat pengurus dan keputusan-keputusan, kebijakan diluar hasil RAT. Dan ingat, Rapat Anggota Tahunan adalah pengambil keputusan tertinggi dalam semua tindak-tanduk dalam Koperasi Tao Toba Parapat ini, ujar  M Sinaga (40), menambahkan.

Dinas Koperasi Simalungun juga bisa turun langsung untuk mengecek segala bentuk permainan yang akhir-akhir ini seolah menjadi sesuka hati pengurus dan memanfaatkan lemahnya SDM Badan Pengawas/Badan Pemeriksa, kata Sinaga.

Namun sampai berita ini diturunkan ke redaksi, ketua Kopdit Tao Toba, Parulian Silalahi dan MH Sinaga yang dikonfirmasi melalui selulernya, belum berhasil dimintai komentar dan keterangannya terkait dugaan seleksi yang merusak dan melanggar AD/ART itu.

(Stg)