Selundupkan Sabu Melalui Perairan Malaysia, Dua Warga Tanjungbalai Divonis Penjara Seumur Hidup

0
1
Nekat jemput sabu di perairan Indonesia dan Malaysia, dua pria asal Tanjungbalai Rahmad Hamdani alias AM dan Budihari divonis penjara seumur hidup di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (2/8/2022). Tribun Medan/Gita Nadia Putri br Tarigan
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Dua pria asal Tanjungbalai, Rahmad Hamdani alias AM dan Budihari divonis  penjara seumur hidup oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (2/8/2022).

Keduanya merupakan terdakwa kasus penyelundupan narkotika jenis sabu.

Baik Rahmad Hamdani alias AM maupun Budihari, dalam kasus yang menjerat keduanya berperan sebagai kurir menjemput narkotika jenis sabu di perairan Indonesia dan Malaysia.

Dalam amar putusannya, Ketua Majelis Hakim memvonis kedua terdakwa sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumut.

Kedua terdakwa diyakini terbukti bersalah melakukan tindak pidana Pasal 114 ayat (2) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Yakni menyuruh, melakukan dan atau turut serta secara tanpa hak dan melawan hukum menjadi perantara dalam jual beli (kurir) narkotika Golongan I jenis sabu seberat 20 Kg.

“Menjatuhkan para terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup,” kata hakim.

Adapun hal yang memberatkan perbuatan para terdakwa, yakni tidak sejalan dengan program pemerintah dalam pemberantasan peredaran gelap narkotika.

“Sedangkan keadaan meringankan, tidak ditemukan,” tegasnya.

Usai mendengar vonis hakim tersebut, JPU dan kedua terdakwa diberikan kesempatan selama 7 hari untuk menetukan sikap terkait putusan tersebut, apakah menerima atau menyatakan banding.

Sekadar diketahui, perkara ini berawal pada Selasa 1 Maret 2022 lalu, saat terdakwa Budihari menawarkan Rahmad pekerjaan untuk menjemput sabu.

Kemudian, pada Rabu 2 Maret 2022, Budihari kembali menghubungi Rahmad dan menanyakan tawaran pekerjaan untuk menjemput sabu, ke perbatasan perairan laut Indonesia dan Malaysia.

Namun, saat itu terdakwa Rahmad belum sepakat dengan tawaran tersebut.

Selanjutnya, Budihari kembali menawarkan pekerjaan tersebut hingga Rahmat pun mau.

“Sabtu 55 Maret 2022 sekira terdakwa Rahmat disuruh Budihari menemuinya di  Ladang Jalan Bambu Selta  Tanjungbalai,” kata JPU.

Di pertemuan tersebut, Budihari menyerahkan uang muka  untuk menjemput sabu sebesar Rp 45 juta, sedangkan sisanya sebesar Rp 25 juta, akan dibayarkan apabila sabu sudah diserahkan kepada seseorang di Medan.

Kemudian, terdakwa Rahmat pergi menuju ke dermaga PT Agis dan bertemu dengan Wak Gondrong (dalam lidik), lalu terdakwa mengajak Wak Gondrong menjemput sabu ke Malaysia dengan ongkos sebesar Rp 15 juta.

Lalu, pada Minggu 6 Maret 2022, terdakwa bersama dengan Wak Gondrong berangkat menuju perbatasan perairan laut Indonesia dan Malaysia  menggunakan 1 boat perahu.

Sekira pukul 22.00 WIB keduanya sampai di perbatasan.

“Lalu terdakwa dihubungi oleh seorang yang tidak dikenal melalui Handy Talky dan menanyakan posisi perahu terdakwa, dan ketika perahu terdakwa berada di posisi 5005 ada tandanya lampu warna hijau, selanjutnya datang 1 unit perahu,” urai jaksa.

Lalu orang tersebut melemparkan 1 buah tas warna hitam di dalamnya  terdapat 15 bungkus plastik teh warna hijau bertuliskan tulisan cina merek Guanyinwang berisikan sabu dengan berat keseluruhan seberat 15.000 gram netto dan 1 buah tas warna biru berisi 5 bungkus plastik teh warna hijau berisikan sabu seberat 5.000 gram.

Selanjutnya, terdakwa menyimpan sabu tersebut di Palka (tempat penyimpanan ikan), lalu terdakwa bersama dengan Wak Gondrong kembali ke perairan Indonesia.

“Sekira pukul 11.00 WIB, terdakwa dan Wak Gondrong sampai di dermaga Wak Ahmad Djajar,” kata jaksa.

Namun, Anggota Polisi Ditresnarkoba Polda Sumut yang sebelumnya telah mendapat informasi dari masyarakat, bahwa terdakwa ada membawa narkotika jenis sabu dari perairan laut Indonesia dan Malaysia ke Jalan Teluk Nibung bergerak mencaritau.

Lalu, pada 7 Desember 2022 saat terdakwa keluar dari perahu, anggota kepolisian langsung menangkap terdakwa, namun Wak Gondrong berhasil melarikan diri.

Saat diintrogasi terdakwa mengakui bahwa sabu itu, diperoleh atas suruhan  Budihari. Lantas terdakwa dibawa mencari keberadaan Budihari.

“Selanjutnya sekira pukul 12.00 WIB saksi polisi melakukan  penangkapan terhadap Budihari di kebun Jalan Bambu Selat Bandar, Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjung Balai,” ujar jaksa.

Saat dilakukan penangkapan, ditemukan barang bukti 1 plastik warna biru di dalamnya terdapat ganja seberat 8,84  gram netto.

Dikatakan jaksa adapun keuntungan yang akan terdakwa Rahmat apabila  berhasil mengambil sabu tersebut dari perbatasan  sebesar Rp 70 juta dan terdakwa telah menerima uang sebesar Rp 45 juta dari Budihari.

 

Sumber : tribunnews.com