Siksa Terduga Pencuri Sampai Mati, Oknum Marinir dan Kawan-kawannya Diadili Terpisah

0
0
Sidang kasus penganiayaan terhadap terduga pencuri hingga mati. TRIBUN MEDAN/EDWARD GILBERT MUNTHE
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Sutrisno alias pak Tris, oknum Marinir TNI AL terpaksa berurusan dengan hukum, karena siksa terduga pencuri hingga mati.

Dalam kasus ini, lima orang lainnya yang merupakan warga sipil, yakni Dianah Armyliza, Ristra Nurmalina Sitepu alias Cece, Anak Syah Daffa Afiari Esmoko alias Dafa, Citra Riski Islami alias Citra, dan Suyanto alias Siwil diadili di PN Medan.

Sementara oknum Marinir TNI AL itu, kini diadili di Pengadilan Militer Tinggi I Medan.

Pada persidangan yang digelar di PN Medan Jumat (11/11/2022) terungkap, kasus ini bermula pada Selasa, 13 September 2022 lalu.

Saat itu, saksi Ristra dan Titiadi kehilangan handphone di Klinik Rumah Hijau yang ada di Jalan Marelan VII, Pasar I Tengah, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Setelah kejadian, saksi menemukan adanya satu batang aluminium bulat yang merupakan gantungan gorden tergeletak di dalam klinik.

Gantungan gorden itu sudah dimodifikasi ujungnya, dan ditempelkan jala sehingga menyerupai tangguk untuk ikan.

Pascakejadian, kedua saksi menceritakan masalah ini pada kenalannya bernama Mak Rani.

Atas laporan itu, Mak Rani memanggil terdakwa Suyanto alias Siwil untuk mencari pelaku yang diduga mengambil telepon genggam milik kedua korban.

Kemudian, terdakwa Dianah bertemu dengan saksi Ristra, Titiadi, dan terdakwa Suyanto alias Siwil.

Saksi Dianah mengatakan kepada Suyanto agar membantunya menemukan maling HP yang sudah menggasak telepon selular milik saksi Ristra dan saksi Titiadi.

Berselang dua hari kemudian, Suyanto datang ke rumah terduga pencuri bernama Sapriadi alias Julek.

Lalu, Sapriadi aluas Julek kemudian dibawa Suyanto ke rumahnya di Jalan Marelan V, Pasar II Barat, Gang Abadi, Kecamatan Medan Marelan.

Usai membawa korban, terdakwa mendatangi Klinik Rumah Hijau.

Terdakwa Suyanto mengajak serta saksi Ristra dan terdakwa Anak Syah Daffa Afiari Esmoko alias Dafa untuk melihat terduga pelaku pencurian.

Sesampainya di rumah terdakwa, saksi Ristra mengatakan bahwa benar Sapriadi alias Julek adalah pelakunya.

“Seketika terdakwa Suyanto memukul korban menggunakan satu batang alumunium bulat gantungan gorden warna emas yang salah satu ujungnya terpasang tangguk,”

“Terdakwa juga memukul menggunakan tangan ke bagian tubuh korban secara berkali-kali dan menendang ke arah badan korban,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bastian Sihombing.

Kemudian, saksi Ristra merekam perbuatan terdakwa Suyanto menggunakan telepon genggam merek Iphone 6S.

Hingga malam hari, terduga pencuri itu tak mau mengaku.

Akhirnya, para terdakwa ini kemudian memanggil oknum Marinir bernama Sutrisno alias Pak Tris.

Dari sinilah penyiksaan sadis dimulai.

Pak Tris mulanya menghajar terduga pencuri itu pakai kopel atau tali pinggang miliknya.

Karena korban tidak mengaku, Pak Tris kemudian keluar rumah, lalu mengambil selang air.

Pak Tris berkata “naik level… naik level…” dan langsung memukuli punggung korban.

Pada saat itu terdakwa lain merekam aksi Pak Tris.

Karena dihajar bertubi-tubi pakai selang, korban akhirnya mengaku.

Ia kemudian diarak ke lapangan yang ada di Jalan Marelan VII.

Di sana, warga yang mengenali wajah korban mengatakan bahwa memang benar korban ini sering mencuri.

Tak pelak, warga lain ikut menghajar korban hingga lemas.

Setelah digebuki bertubi-tubi, korban ditinggal begitu saja di lapangan.

“Pada waktu subuh, sekira pukul 4.30 WIB, korban ditemukan telah meninggal dunia,” kata JPU.

Dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, penyebab kematian korban mati lemas karena pendarahan yang banyak di jaringan otak akibat ruda paksa tumpul pada kepala.

“Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 Ayat (2) Ke-3 Kitab Undang-undang Hukum Pidana,” tegas JPU.

 

Sumber : tribunnews.com