Singapura Resmi Resesi, Kok Mata Uangnya Tetap Stabil?

0
30
Foto: Ari Saputra

Jakarta, buktipers.com – Singapura resmi resesi setelah perekonomiannya tumbuh negatif selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal I-2020, ekonominya kontraksi hingga 2,2% akibat penyebaran COVID-19. Sedangkan di kuartal II-2020, ekonominya pun minus 41,2%.

Meski sudah resmi resesi, namun ada yang menarik dan perlu diketahui yaitu stabilnya nilai tukar dolar Singapura terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut data Reuters, saat ini dolar Singapura berada di posisi 1,36 per US$ 1. Jika dilihat selama sepekan dolar Singapura justru cenderung menguat. Pada 12 Agustus 2020 dolar Singapura berada di level 1,37.

Bahkan dolar Singapura berada dalam tren positif sejak akhir Mei 2020 yang saat itu berada di level 1,4. Jika dilihat dalam 52 minggu dolar Singapura bergerak dalam rentang 1,34 hingga 1,46 per dolar AS.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan yang membuat nilai tukar dolar Singapura stabil terhadap dolar AS adalah fundamental perekonomiannya. Menurut dia, Singapura juga merupakan salah satu negara yang kaya.

“Fundamental dia kuat, asetnya banyak sehingga kena resesi karena COVID bukan karena ekonominya berantakan,” kata Ibrahim saat dihubungi detikcom, Jakarta, Rabu (19/8/2020).

Ibrahim menilai kedalaman pasar keuangan di Singapura juga menjadi salah satu modal besar bagi stabilitas dolar Singapura. Ditambah lagi dengan program perlindungan sosial yang sudah berjalan efektif, dia mencontohkan seperti tunjangan pengangguran yang diberikan selama pandemi Corona.

“Jadi pada saat COVID selesai dan obat pandemi Corona ditemukan maka resesinya hilang sendiri, mereka negara kaya walau terjadi resesi tapi konsumsi rumah tangga tetap berjalan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Menurut dia kedalaman pasar keuangan Singapura menjadi kunci stabilitas nilai tukar mata uang dolar Singapura.

Hal itu, dikatakan Yusuf menjadi perbedaan dengan apa yang terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski Indonesia belum masuk resesi, namun nilai tukarnya fluktuasi atau naik turun.

“Sebagai perbandingan pasar obligasi, ukuran pasar obligasi dengan mata uang domestik (dolar Singapura) terhadap PDB mencapai 90%, sementara ukuran pasar obligasi di Indonesia dengan nilai rupiah cuma 20%,” kata dia.

“Artinya pasar mata uang Singapura tidak akan terlalu berfluktuasi jika ada gelombang capital outflow, sementara Indonesia kebalikannya rupiah berfluktuasi, mengarah melemah jika terjadi sudden capital outflow (pelarian arus modal secara tiba-tiba),” tambahnya.

Oleh karena itu, Yusuf menilai perbaikan nilai tukar rupiah perlu dilakukan dengan berbagai pendekatan dan hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu menengah panjang.

“Solusinya tentu pendalaman pasar keuangan dengan mendorong penggunaan rupiah lebih banyak dalam beragam transaksi di pasar keuangan,” ungkapnya.

 

Sumber : detik.com