Siswa Sekolah Perikanan di Aceh Ditemukan Tewas di Belakang Asrama

0
374
Lokasi Siswa Perikanan di Aceh Besar yang Tewas di Belakang Asrama Sekolah Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Dijual Rumah

Buktipers.com – Aceh

Rini Rahayu tak kuasa menahan tangis saat berdiri di depan kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Dia memeluk erat bahu sang suami, merelakan Raihan Alsyahri (16), yang meninggal dunia dalam kondisi tragis.

Raihan merupakan anak kedua Rini yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Aceh Besar.

Raihan ditemukan tewas di atas bukit perkampungan warga yang jaraknya 300 meter tepat di belakang asrama sekolahnya.

Jasad Raihan ditemukan pada Jumat (1/3) dalam kondisi memar di jidat dan luka di kepala belakang. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam sekolah dan sandal jepit berwarna hitam.

Rini mengatakan, putranya itu masih duduk di bangku kelas I SUPM Ladong. Seminggu sebelum ditemukan meninggal dunia, Rini mengaku masih berkomunikasi dengan putranya via chat Facebook. Mereka merupakan warga asal Sumatera Utara.

Menurut Rini, di obrolan lewat Facebook itu, Raihan curhat tentang sekolahnya yang sedang bermasalah. Namun dia tidak menceritakan masalah apa yang sedang terjadi.

Siswa Perikanan di Aceh Besar yang Tewas di Belakang Asrama Sekolah Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

“’Mah sekolah Aan (Raihan) ini lagi ada masalah. Masalahnya sudah sampai Jakarta. Tapi Aan tidak masalah di sini’. Sudah itu saja dia bilang sama saya,” kata Rini saat ditemui, di RSUDZA, Sabtu (2/3).

Putra keduanya itu, kata Rini, juga tidak pernah mengeluh dan cerita apapun. “Keluhan tidak ada, dia cuma kayak tertekan gitu,” ujar Rini.

“Kami sekolahkan dia ke sana (Aceh) dalam keadaan sehat. Bukan berharap tinggal nama,” imbuhnya.

Rini meyakini anaknya itu dibunuh. Dia berharap pembunuh anaknya segera ditangkap dan diproses hukum.

Sementara itu ayah Raihan, Sofyan, tidak banyak memberi keterangan. Dia hanya berharap kejadian yang menimpa anaknya tidak dialami orang tua lain di sekolah itu.

“Jangan sampai ada korban atau Raihan kedua lagi,” ungkapnya.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto mengatakan, Raihan ditemukan pada Jumat (1/3) sekitar pukul 11.45 WIB oleh salah seorang warga bernama Abdul Munir.

Abul pada saat itu sedang mengembala sapi. Dia kemudian melihat seseorang terbaring di tanah atas bukit. Saat dihampiri dia melihat Raihan dalam kondisi tidak bernyawa.

Orang tua korban Perikanan yang tewas di Aceh Besar Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

“Saksi menghampiri orang tersebut sudah tidak bernyawa kemudian melaporkan temuan itu ke Polsek Krung Raya,” kata Trisno saat dikonfirmasi.

Trisno mengatakan, atas temuan itu saat ini institusinya melakukan pemeriksaan saksi-saki autopsi jenazah untuk mengungkap peristiwa tersebut. “Memang pada pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” ujarnya.

Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Marzuki saat ditemui kumparan di sekolahnya, mengaku kaget saat mengetahui salah seorang siswanya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di atas bukit yang tak jauh dari asrama.

Menurut Marzuki, sejak 35 tahun terakhir, di sekolahnya itu tidak pernah terjadi masalah kekerasan, apalagi yang menyebabkan seseorang meninggal dunia.

“Aman-aman saja selama ini. Sudah 35 tahun kami di sini tidak pernah ada kejadian apa-apa,” katanya.

Marzuki mengaku, pihak sekolah akan membantu pihak kepolisian untuk mengungkap kasus di balik meninggalnya Raihan.

“Saya tidak bisa kasih keterangan banyak. Biar ini ditangani oleh polisi, yang pasti kita akan membantu penegak hukum untuk menemukan pelaku di balik kasus ini,” kata dia.

Sumber : kumparan.com