Sri Mulyani Atur Investasi Tabungan Hari Tua PNS, Ini Rinciannya

0
1
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Dok. Kementerian Keuangan
Dijual Rumah

Jakarta, buktipers.com – Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengeluarkan aturan mengenai  investasi untuk program tabungan hari tua pegawai negeri sipil (PNS).

Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 66/PMK.02/2021 tentang Tata Cara Pengelolaan Iuran dan Pelaporan Penyelenggaraan Program Tabungan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian Bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara, Prajurit Tentara Nasional Republik Indonesia dan Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Tabungan Hari Tua yang selanjutnya disingkat THT adalah  tabungan yang bersumber dari iuran peserta dan iuran  pemerintah beserta pengembangannya yang diselenggarakan dengan tujuan untuk menjamin agar  peserta menerima uang tunai pada saat yang bersangkutan  berhenti, baik karena mencapai usia pensihn maupun bukan karena mencapai usia pensiun,” tulis aturan tersebut yang dikutip SINDOnews di Jakarta, Sabtu (19/6/2021).

Pada pasal 2 ayat 1 menerangkan dalam rangka menyelenggarakan program THT, Jaminan Kecelakaan  Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian ( JKM), maka Pengelola Program akan mengelola iuran program THT, JKK, dan JKM.

Iuran program sebagaimana dimaksud pada ayat dan hasil pengembangan iuran program merupakan pendapatan pengelolaa pendapatan.

Pengelolaan iuran sebagaimana yang tertulis pada pasa 4 ayat 1  dimaksud harus dilakukan secara optimal dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai.

“Kekayaan yang diperkenankan sebagaimana dimaksud   merupakan kekayaan yang memenuhi ketentuan tentang Jems, penilaian, dan batasan  sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini. Kewajiban dalam perhitungan tingkat solvabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat merupakan kewajiban Pengelola Program sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini,” bunyi peraturan tersebut.

Sedangkan iuran JKK dan JKM hanya boleh diinvestasikan di SBN, deposito, saham, obligasi, sukuk, dan reksa dana saja. Artinya, instrumennya lebih minim ketimbang pengelolaan iuran program THT.

Dijelaskan, instrumen investasi yang dilarang untuk menempatkan dana kelola iuran, yaitu instrumen derivatif atau instrumen turunan surat berharga, instrumen perdagangan berjangka, instrumen di luar negeri, perusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki direksi, komisaris, dan pejabat negara selaku pribadi, hingga pinjaman dana ke anak usaha dalam rangka penyehatan likuiditas.

 

Sumber : iNews.id