Suami Istri Histeris Datangi Polres Nias, Cari Keadilan Kasus Anaknya yang Hilang

0
6
Suami istri yang histeris saat mendatangi Polres Nias dengan membawa bingkai foto anaknya yang hilang sejak 25 Juli silam. (Foto: iNews/Iman Jaya Lase)

Nias, buktipers.com – Pasangan suami istri menangis histeris saat mendatangi Mapolres Nias. Mereka membawa bingkai berisi foto bocah perempuan berusia delapan tahun yang diketahui bernama Marsetia Gea.

Ditemani sejumlah anggota keluarga, pasutri ini datang mencari keadilan dan mempertanyakan laporan soal anaknya yang hilang sejak 25 Juli silam pada Rabu (2/9/2020). Aksi mereka ini yang bergulingan dan menangis histeris ini menyita perhatian petugas maupun pengunjung di Polres Nias.

Identitas pasutri tersebut diketahui bernama Bedali Gea dan Samaria Zega, warga Desa Fulolo Salo’o, Kecamatan Sitolu Ori, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Keluarga menduga, anak mereka menjadi korban pembunuhan. Sementara laporan awal menyebutkan, korban hilang terseret arus sungai dan sampai saat ini belum ditemukan.

Keterangan Foriman Zega perwakilan keluarga, mereka mencurigai paman korban sebagai otak dibalik hilangnya Marsetia Gea. Karena paman korban menjadi orang terakhir yang diketahui bersamanya.

“Hubungan ibu dan paman korban ini tidak baik, sudah retak. Makanya sewaktu paman ini membawa anaknya, si ibu tidak setuju, tapi tetap dibawa. Namun saat kembali, paman itu tidak membawa anaknya sampai hari ini,” katanya.

Dia mengungkapkan, paman korban ketika itu menyampaikan jika Marsetia Gea dia tinggalkan di tepi sungai yang saat itu sedang banjir dan berarus deras. Dia ketika itu membawa adik korban yang berusia dua tahun untuk menyeberang. Mereka saat itu dalam perjalanan pulang dari kebun.

“Jadi anak ini hilang pada 25 Juli. Hilangnya tidak jelas saat dibawa pamannya,” kata Foriman.

Keluarga semakin curiga setelah pamannya berulang kali mencoba meminta perdamaian dengan memberi uang Rp20 agar keluarga korban tidak keberatan.

Kecurigaan keluarga semakin bertambah karena merasa dipersulit saat melakukan pencarian. Mereka dihalang-halangi oknum kepala desa yang menjadi lokasi TKP dilaporkan hilang dengan alasan harus ada izin tertulis.

“Kami juga pernah di-massa lebih dari 500 orang saat akan melakukan pencarian. Akhirnya kami gagal mencari korban,” ucapnya.

Keluarga mengaku tak tahu harus ke mana lagi untuk mencari keadilan atas hilangnya anak mereka.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Nias AKP Junisar Rudianto mengungkapkan jika keluarga memang sudah pernah membuat laporan di Polsek. Anggota Polsek juga sudah turun lapangan untuk mencari dan menyelidiki laporan tersebut.

“Ibu ini sudah pernah membuat laporan di Polsek, anggota kami juga masih melakukan pencarian. Kami juga akan membantu penyelidikan kasusnya,” ujar Junisar.

Menurutnya, saat ini baru saksi dari keluarga yang diminta keterangan. Namun nanti penyelidikan akan kembali dilakukan untuk mencari korban yang hilang lebih dari sebulan.

 

Sumber : iNews.id