Tangis Istri Irjen Ferdy Sambo saat Diperiksa, Tewasnya Brigadir Yosua Hutabarat, Memang Dilecehkan?

0
1
Irjen Pol Ferdy Sambo dan Istri, Ny. Putri Ferdy Sambo. twitter
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Tangis istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Ferdy Sambo menyeruak saat menjalani pemeriksaan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Putri diperiksa penyidik  terkait tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di rumahnya.

Seperti diketahui, kasus ini berjalan tapi penuh dengan kejanggalan.

Polisi pun terkesan menutup-nutupi kasus sehingga publik penasaran.

Benarkah, istri Irjen Pol Ferdy Sambo dilecehkan oleh Yosua Hutabarat seperti penuturan polisi sebelumnya?

Mengapa polisi harus turun lagi ke lokasi tewasnya bintara tersebut dan melakukan olah TKP?

Polres Metro Jakarta Selatan memberikan pendampingan psikologi terhadap istri dari Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Ferdy Sambo.

Novita Tandry, seorang psikolog yang ditunjuk untuk memberikan pendampingan menyebut kondisi Putri masih trauma atas insiden pelecehan hingga baku tembak ajudan suaminya hingga menewaskan Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

“Masih syok, jadi semalam saya bertemu pendampingan dengan beliau. Beliau masih syok, saya bisa katakan stres sedang ke berat ya dengan tahapannya. Trauma itu dengan kejadian hari Jumat kemarin,” kata Novita saat dihubungi, Rabu (13/7/2022).

Selama 1,5 jam, kata Novita, Putri menceritakan apa yang dia alami saat insiden pada Jumat (8/7/2022) terjadi.

Novita menyebut dampak psikologi yang diterima Putri sangat besar ketika menjadi saksi insiden berdarah yang dilakukan sopir dan ajudan suaminya tersebut.

“Terus menerus menangis, karena harus menjelaskan apa yang terjadi. Diceritakan tapi tidak tuntas, dan akhirnya saya menyetop, menceritakan kembalinya ini,” jelasnya.

Di samping itu, dia juga menyoroti keempat anak dari Putri dan Irjen Pol Ferdy Sambo yang bisa terdampak terhadap tumbuh kembangnya soal kejadian ini.

“Ibu yang mengalami trauma seperti ini, keadaan emosi yang tidak stabil tentunya anak-anak akan memberikan pengaruh kepada keempat anak ini, kasian bgmanapun bukan hanya menyangkut seorang orang ibu, tapi juga istri,” bebernya.

Polri menyebut Yosua tewas karena baku tembak dengan sesama rekan polri, Bharada E masih.

Keduanya merupakan ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

Namun, banyak ditemukan kejanggalan dalam kasus ini.

Mulai dari CCTV yang disebut rusak, 3 HP Yosua dinyatakan hilang HP keluarga Yosua di Jambi diretas.

Kenapa harus dilakukan demikian?

Sementara Polres Metro Jakarta Selatan hingga kini telah memeriksa empat orang saksi. Selain istri Kadiv Propam, Putri Ferdy Sambo dan Bharada E, polisi juga memeriksa R dan K.

“Ada saksi R sama saksi K (yang sudah diperiksa),” kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto kepada wartawan, Rabu (13/7/2022).

Budhi menyebut keduanya diperiksa karena berada di lokasi saat kejadian baku tembak itu terjadi.

“Kalau R itu sopirnya ibu (istri Irjen Sambo), kalau K kayaknya pembantu ya,” jelasnya.

Olah TKP dilakukan lagi di rumah Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo.

Terlihat sejumlah pejabat kepolisian berada di lokasi untuk melakukan olah TKP yang di antaranya Karo Wassidik Mabes Polri Brigjen Iwan Kurniawan dan Dirttipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Djajadi.

Terlihat pula Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto, Wakapolres Metro Jakarta Selatan AKBP Harun dan sejumlah penyidik di lokasi.

Selain itu, petugas dari Inafis Polri juga hingga Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri berada di lokasi dalam olah TKP tersebut.

Terlihat, garis polisi yang sebelumnya dipasang, kini sudah kembali dilepas oleh pihak kepolisian.

Di samping itu, petugas Inafis Polri juga terpantau membawa tiga buah koper yang dua di antaranya berwarna hitam dan satu berwarna orange dibawa untuk penyidikan dari rumah Irjen Pol Ferdy Sambo.

Belum ada keterangan resmi terkait olah tkp yang dilakukan kali ini. Garis polisi yang sempat dipasang saat olah tkp sebelumnya juga sudah tidak terlihat.

Sebelumnya, pada Selasa (12/7/2022) malam, polisi juga telah melakukan olah tkp rumah Irjen Sambo.

“Ya betul (olah tkp),” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ridwan Soplanit saat dikonfirmasi, Selasa (12/7).

*Keluarga Yosua Hutabarat  Ketakutan Dikepung Polisi 

Hingga kini belum terungkap secara transparan, bagaimana proses tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Anggota brimob yang sebelumnya disebut baku tembak dengan sesama petugas di rumah petinggi polri.

Meski polri menyebut, Insiden baku tembak peristiwa itu dinilai publik banyak kejanggalan.

Sementara pihak keluarga mendiang Brigadir J pun tak bisa terima dengan pernyataan polisi terkait penyebab kematian Brigadir J.

Dari keterangan polisi, Brigadir J tewas lantaran luka tembak, namun nyatanya di tubuh jenazah ditemukan luka sayatan di muka dan dua jari tangannya hilang.

Sontak, kronologi sebenarnya baku tembak Brigidir J pun menuai tanda tanya.

Baru-baru ini bahkan diketahui ratusan polisi mendatangi rumah orangtua Brigadir J untuk memberikan penjelasan kronologi penembakan kepada keluarga.

Kedatangan ratusan polisi dengan mengepung rumah dan menutup pagar sekolah membuat keluarga ketakutan.

“Waktu datang orang itu ke rumah, kami terkejut. Jantung kami serasa mau copot, maklum kami baru trauma baru kehilangan,” kata Bibi Brigadir J, Rohani Simanjuntak di rumah duka, Selasa (12/7/2022) dikutip dari Kompas.com.

Rohani mengatakan, keberadaan rumah orangtua J berada dalam kompleks perumahan guru SD di Sungaibahar.

Saat ratusan polisi datang dengan 1 bus dan 10 mobil penumpang membuat kondisi sangat menyeramkan.

Ada polisi yang mengenakan seragam, berpakaian hitam putih, dan pakaian bebas.

Mereka datang kemudian membuat pagar seolah mengepung rumah.

Kedatangannya Senin malam, sekitar pukul 20.00 WIB, saat keluarga sedang berkumpul di dalam rumah.

Menurut keluarga Brigadir J, tindakan yang dilakukan ratusan polisi berbaris mengelilingi rumah tersebut dilakukan tanpa komunikasi dan permisi.

Bahkan pintu gerbang sekolah, yang menjadi akses keluar dan masuk ke rumah itu, juga ditutup rapat.

Saat kejadian ini, sambung Rohani, pihaknya sedang berada dalam rumah.

Sebagian polisi masuk ke rumah tersebut dengan mengunci pintu.

“Kami seolah diserang, karena rumah didatangi,” kata Rohani.

Merasa terdesak, Rohani menegur polisi dengan nada tinggi.

“Jangan seperti itulah Pak masuk rumah orang, kami ini lagi sedih loh, lagi trauma. Yang sopan lah, pakek permisi,” kata Rohani.

Setelah masuk ke rumah, semua anggota keluarga dilarang merekam dan mengambil gambar.

Seperti diketahui, Brigadir J tewas akibat baku tembak dengan anggota Polri lain, Bharada E di kediaman Kadiv Prompam Polri Irjen Ferdy Sambo.

Insiden mengerikan ini disebut dipicu oleh hasrat Brigadir J kepada istri Irjen Ferdy Sambo.

Kini, Presiden Jokowi pun turun tangan soal kasus ini.

Kasus ini jadi sorotan karena ditemukan banya kejanggalan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Polisi Ahmad Ramadhan mengonfirmasi adanya insiden saling tembak di kediaman Kadiv Prompam Polri Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7/2022) lalu.

Dijelaskan Ramadhan, baku tembak antara Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat dengan Bharada E diawali dari teriakan istri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.

Brigadir J adalah anggota Bareskrim yang ditugaskan sebagai sopir istri Kadiv Propam.

Sedangkan Bharada E adalah anggota Brimob yang bertugas sebagai pengawal Kadiv Prompam.

Digambarkan Ramadhan, istri Kadiv Propam berteriak karena Brigadir J memasuki kamar pribadinya.

Bukan hanya itu, Brigadir J juga disebut melecehkan istri Kadiv Propam dan menodongkan senjata.

3 HP Yosua Hilang, HP Keluarga Diretas

Kematian Brigpol Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di Rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo menuai sorotan.

Terakhir, keluarga Brigadir J mengaku ponselnya diretas oleh orang tak dikenal.

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto meminta agar keluarga Brigadir J mendapatkan pendampingan hukum dari lembaga yang berkompeten.

“Keluarga korban memang butuh pendampingan hukum dari lembaga yang berkompeten,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, Rabu (13/7/2022).

Apalagi, kata Bambang, rumah keluarga Brigadir K juga digeruduk oleh sejumlah polisi. Hal inilah yang membuat pihak keluarga harus mendapatkan pendampingan hukum.

“Iya, jadi harus dikasih pendampingan hukum,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa baku tembak yang menewaskan Brigpol Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J masih menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi keluarganya di Jambi.

Setelah sejumlah keluarga mempertanyakan keberadaan barang bukti di lokasi kejadian, dan barang-baran milik pribadi korban, kali ini 3 handphone keluarga inti korban diduga diretas.

Samuel ayah Brigpol Nofriansyah Yosua Hutabarat menjelaskan, sejak Senin 11 Juli 2022 malam, usai prosesi pemakaman, sejumlah HP keluarga inti diduga diretas.

Handphone Ibu, dan kakak kandung sulung korban tidak dapat digunakan untuk mengakses media sosial dan WhatsApp.

“Ya terakhir tadi malam masih bisa dipakai, pas pagi sudah tidak bisa lagi,” kata Samuel, Selasa (12/7/2022).

Namun, saat Tribunjambi.com dan sejumlah awak media sedang berada di rumah duka, handpohone adik dari korban juga kembali tidak bisa difungsikan, untuk mengakses WhatsAap dan media sosial lainnya.

“Iya, ini barusan sudah tidak bisa difungsikan lagi,” kata seorang keluarga, memberitahu ke sejumlah awak media.

Samuel juga mengatakan, hingga saat ini pihak keluarga masih mempertanyakan keberadaan 3 unit handphoneanaknya itu.

“HP anak saya ada 3, sampai sekarang tidak dikembalikan dan mereka bilang tidak menemukan HP,” tukas Samuel.

 

Sumber : tribunnews.com/kompas.com