Tangis Penjual Rokok Ilegal di Pengadilan: Tolong Jangan Ditahan Pak, Saya Gak Ngerti

0
7
JUAL ROKOK ILEGAL - Matius Tarigan terdakwa penjual rokok ilegal menangis di Pengadilan Negeri (PN) Medan se usai Majelis Hakim yang diketuai Immanuel Tarigan mengeluarkan penetapan penahanan terhadap dirinya, Selasa (28/6/2022). TRIBUN MEDAN/GITA NADIA
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Matius Tarigan terdakwa penjual rokok ilegal menangis di Pengadilan Negeri (PN) Medan seusai Majelis Hakim yang diketuai Immanuel Tarigan mengeluarkan penetapan penahanan terhadap dirinya.

“Hari ini kita akan menahanmu, jadi gak usah pulang lagi hari ini. Saudara dalam dakwaan jaksa masalah cukai rokok, apabila terbukti pidananya penjara, di samping itu ada pula pidana denda,” ujar hakim Immanuel.

Mendengar hal tersebut, terdakwa yang saat itu tidak ditahan, terlihat kaget dan memohon kepada hakim agar jangan menahan dirinya.

“Tolong jangan ditahan pak, saya sebenarnya gak ngerti pak. Soalnya saya cuma menjualkan, kata kawan saya enggak masalah ini,” katanya sembari menangis.

Majelis hakim lantas menjelaskan bahwa terdakwa terancam 10 tahun penjara, sehingga harus dilakukan penahanan.

Selain itu hakim juga menyentil jaksa penyidik mengapa tidak melakukan penahanan terhadap Matius.

“Ini kejahatan serius, yang jelas yang saudara jual itu rokok yang tidak dilengkapi dengan cukai rokok dan itu ancamannya 10 tahun. Jadi saudara jalani dulu masa penahanan 30 hari mulai hari ini. Tanda tanya juga ini ke penyidik, kenapa saudara tidak ditahan,” sentil hakim.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmi Shafrina dalam dakwaannya menuturkan bahwa perkara ini bermula pada Kamis  10 Mei 2021 lalu, saat saksi-saksi petugas Kepolisian dari Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara menerima informasi bahwa terdakwa Matius memperdagangkan barang  yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Adapun barang yang didagangkan yakni rokok merek Luffman dan rokok merek Luckyman yang tidak  memenuhi standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kemudian sekira pukul 08.30 Wib Tim dari  Ditreskrimsus Poldasu melakukan pemeriksaan di rumah terdakwa di Jalan Suka Dame Dusun 2 Desa Salam Tani Kec. Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang  yang disaksiksan oleh saksi Sovia Oktalia Br Ginting (istri tersangka) dan saksi Jonson Tarigan (Kepala Desa SalamTani),” ujar jaksa.

Saat itu, petugas Ditreskrimsus Polda Sumut menemukan barang bukti berupa 50 slop rokok merek Luffman merah, 54 slop rokok merek Luffman silver, 345 slop rokok merek Luckyman merah dan 7 slop rokok merek Luckyman silver.

“Selanjutnya Tim dari  Ditreskrimsus Poldasu menginterogasi Sovia, dan (Sovia) mengatakan bahwa rokok-rokok tersebut milik terdakwa,” kata jaksa.

Saat diinterogasi, terdakwa menerangkan bahwa rokok tersebut diperoleh dari Dedi (dalam lidik) dan untuk rokok dengan merek Luffman terdakwa beli dengan harga Rp. 68.000 / slop dan rokok merek Luckyman terdakwa beli dengan harga Rp. 65.000, rokok merek Luffman dan rokok merek Luckyman akan terdakwa jual seharga Rp 75.000.

“Terdakwa telah memperdagangkan barang yang tidak  memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan berupa  rokok merek Luffman dan rokok merek Luckyman lebih kurang 5 bulan,” beber jaksa.

Dikatakan JPU, bahwa perbuatan terdakwa yang telah menjual rokok merek Luffman dan rokok merek Luckyman adalah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

“Berdasarkan keterangan ahli dalam perkara ini, menerangkan bahwa rokok dengan merek Luckyman dan Luffman tersebut tidak dapat diedarkan dan/atau diperdagangkan, karena sebelum diedarkan seharusnya setiap produk rokok harus memenuhi standar yang sudah ditetapkan,” urai JPU.

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar  Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf a UU RI No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

 

Sumber : tribunnews.com