Beranda Siantar ‘Terhentinya’ Pembangunan Tugu Sangnaualuh, Kadim Damanik: Rasanya Saya Ingin Menangis                        

‘Terhentinya’ Pembangunan Tugu Sangnaualuh, Kadim Damanik: Rasanya Saya Ingin Menangis                        

129
0
Kadim Morgan Damanik.(foto/BP)
Loading...

Buktipers.com – Pematangsiantar

Untuk membangun Tugu Raja Sangnaualuh sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dilaksanakan oleh Pemko Pematangsiantar, apalagi rencana itu telah diawali musyawarah atau kesepatan dengan berbagai elemen masyarakat. Namun kenyataannya, pembangunan tugu itu kembali terkendala.

Tak heran, dampak terkendalanya pembangunan Tugu Raja Siantar itu kembali memantik gejolak dan kecaman dari orang-orang Simalungun dan Siantar.

Senin (11/3/2019) kemarin, kembali terjadi aksi unjukrasa dari HIMAPSI yang tergabung dalam Gerakan Patunggung Simalungun,  untuk mendesak penyidik Polri dan Kejaksaan untuk mengusutnya.

Kadim Damanik didampingi Ketua Gerakan Kerukunan Bangsa Kab.Simalungun, Jamansen Purba SE.(foto/BP)

Permasalahan yang seakan tak pernah henti ini, sepertinya mengharuskan seorang tokoh dan budayawan Simalungun, Kadim Morgan Damanik (77) tak tinggal diam, dan beliau pun angkat bicara.

Mantan Ketua Partuha Maujana Simalungun di era pemerintahan Bupati Simalungun, JP.Silitonga itu, kepada wartawan di kediamannya Jalan Reville Pematangsiatar, Selasa sore (12/3/2019) mengatakan, membangun Tugu Raja Sangnaualuh itu bukanlah pekerjaan yang sulit.

“Tidak sulit membangun Tugu Raja Sangnaualuh. Mungkin ada yang mempersulit, kalau tidak ada yang mempersulit kenapa jadi begini. Sebentar di sana, sebentar di sana, sebentar di sana. Padahal pada awalnya sudah ada ditetapkan lokasinya,” kata Kadim nada kesal menanggapi kembali dihentikannya pembangunan Tugu Raja Sangnaualuh.

Ditanya kembali siapa sebenarnya yang mempersulit? Kadim menanggapi wartawan tetap berdiplomasi.

“Mungkin ada yang mempersulit, tapi siapa yang mempersulit? Saya kurang taulah,” ujar Kadim menambahkan sambil tersenyum sembari mengernyitkan dahi seakan menutupi sesuatu hal.

Dia mengakui, dihentikannya pembangunan Tugu Sangnaualuh adalah hal yang paling dikecewakannya. Menurutnya, ada hal yang salah dilakukan pemerintah dalam hal ini. Karena sudah terlanjur menggunakan anggaran APBD 2018, dan dana ini kata dia harus dipertanggungjawabkan, karena APBD itu adalah uang rakyat.

Baca Juga!  Ada Iklan Rokok di Videotron, Lokasinya di Kawasan Tanpa Rokok. Bagaimana Perwa Siantar?

Lebih jauh mantan anggota DPRD Simalungun di era 70 an itu, membeberkan. Pada saat rencana peletakan batu pertama, dia juga ikut diundang, tapi lokasinya jadi persoalan, dan masalah lokasi inilah yang menyebapkan terjadinya penolakan dari berbagai elemen orang-orang Simalungun dan Siantar.

Menanggapi wartawan dimana lokasi pembangunan Tugu Raja Sangnaualuh yang sebenarnya? Kadim Damanik menceritakan, jauh hari sebelumnya ada pertemuan dengan berbagai elemen penting di Balai Data Pemko Pematangsiantar, dia juga ikut diundang, untuk membicarakan tentang Tugu Raja Sangnaualuh yang dikenal sebagai tokoh Nasional itu.

Pada rapat itu, diudang dan dihadirkan Profesor Doktor dari USU tapi dia lupa namanya, ada juga Prof.Bungaran Saragih dari Jakarta, serta beberapa tokoh masyarakat, tokoh adat dan budaya dari berbagai elemen.

“Waktu itu Walikota Hefriansyah memberikan bimbingan dan pengarahan. Sesudah dibuka flor tanya jawab, saya duluan ngomong. Begini pimpinan sidang, demikian juga kepada ibu dari USU, dimanapun dibangun Tugu Raja Sangnaualuh, kami orang Simalungun sangat senang dan berterimakasih. Tapi sekedar masukan kepada ibu dan hadirin sekalian untuk diketahui, dulu sudah diletakkan peletakan batu pertama di Pantoan, itu bu sudah dibahas dan disetujui dari empat kali seminar,” beber Kadim mengingat apa yang pernah  disampaikannya waktu rapat di ruang Data itu.

Lanjut Kadim lagi, pertama seminarnya di USI, kedua di Siantar Hotel, ketiga di Hotel Grand Antares Medan dan keempat di Kantor Gubernur Sumut di Kota Medan.

Baca Juga!  Terkait Temuan Karcis Parkir Di Taman Bunga, Esron Sinaga : "Darimana Ini Dapat Karcisnya"

“Tidak ada perubahan, tetap setuju di Pantoan, karena sudah ada peletakan batu pertama. Yang meletakkan batu pertama dulu adalah Walikota Siantar, bapak Hulman almarhum,” ungkap Kadim.

Ketika di Balai Data itu imbuh Kadim, ada juga pembahasan dari segi teknisnya, di tengah kota di Lapangan Merdeka/Taman Bunga. Tapi Kadim mengaku kaget setelah mengetahui, bahwa peletakan batu pertama berubah jadi di Lapangan Adam Malik.

“Sudah disetujui waktu rapat di Balai Data di Taman Bunga lokasinya, tapi kok jadi di Lapangan Adam Malik. Saya tidak tahu perubahan itu, tapi saya diundang waktu itu ke Taman Bunga itu, saya panggil ojek untuk diantar ke Taman Bunga. Setibanya saya di pertigaan itu, saya lihat orang rame-rame di Lapangan Adam Malik, rupanya di situ,” katanya sambil tertawa.

Kadim: Rasanya Saya Ingin Menangis

“Waktu itu berdiri bulu roma saya, rasanya mau mengangis saya, mengapa ini jadi begini. Saya tanya kawan-kawan di sana, banyak juga kawan-kawan yang mengatakan tidak tahu,” imbuh Kadim Damanik.

Kita kata Kadim, tidak bermaksud mencari-cari kesalahan orang, tapi kita mencari jalan bagaimana supaya harkat dan martabat berdiri tegak di kota kita Siantar ini, dan pada diri sendiri.

“Kita tidak menghukum orang, kalau kita menghukum orang kita juga akan dihukum orang. Jadi kalau ada orang bersalah, biarlah alam yang menghukum dia. Alam ini siapa? alam ini sudah memberkati pemerintah dan pejabat, tentunya pemerintah punya wewenang menyelidiki ini, jangan pula pemerintah membiarkan orang yang semena-mena menggunakan uang negara itu,” tegas budayawan itu.

Baca Juga!  Budi Utari: Dibutuhkan Dua Lagi Calon Direksi PD.PHJ dan PD.PAUS

Kadim menambahkan, kalaupun mengenai penggunaan anggaran itu kesalahan oknum di pemerintahan Siantar, maka oknum itu katanya harus diproses secara hukum.

“Kita tidak mau menghukum orang, biarlah perbuatannya yang menghukumnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Kadim mengajak kita untuk selalu mengikuti semangat dan sifat kebhinneka tunggal ikaan Raja Sangnaualuh, yang sifatnya sangat penolong dan pemberi.

Sangnaualuh itu katanya seperti dewa, menolong siapa saja tanpa melihat suku dan agamanya.

“Semangat dan roh Raja Sangnaualuh itu saya katakan, bahwa Raja Sangnaualuh itu menurut saya ya, adalah seperti dewa, termasuk Raja-raja Simalungun. Kenapa saya katakan seperti dewa? Dewa itu kan pemberi, memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi, Raja Sangnaualuh itu pemberi kepada masyarakat yang datang minta tolong sama dia,” katanya.

“Datang dari Toba, dikasi lokasi dibangun gereja. Datang dari Tapsel dibangun Masjid dan dikasih perkampungan namanya Timbanggalung, datang dari Karo dikasih Kampung Karo, datang dari Melayu dikasi Kampung Melayu belakangan datang dari Nias dikasih perkampungan,” papar Kadim Damanik.

“Jadi harusnya, Walikota ini harus, harus mutlak meniru dan mencontoh sifat-sifat dari Raja Sangnaualuh, pemberi. Harusnya, walikota ini, harusnya dia menerima pewarisan sifat-sifat Raja Sangnaualuh untuk melayani masyarakat.

Sifat Raja Sangnaualuh, katanya sebagaimana pernah dibicarakan bersama beberapa temannya tokoh di simalungun, adalah Raja yang sangat penolong, menolong siapa saja yang datang kepadanya.(red)

 

Editor: Maris

Loading...