Tidak Resah, Puluhan Warga Desa Kota Galuh Tetap Mendukung Pengukuran Hak Milik

0
27
Perwakilan warga Dusun IV Desa Kota Galuh saat menyatakan sikap terkait lahan tanah mereka yang diukur tiba-tiba.
Dijual Rumah

Sergai, buktipers.com – Warga Dusun 4 Desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara yang lahan tanahnya diukur secara tiba – tiba, Sabtu (12/6/2021), akhirnya buka suara.

Masyarakat yang berjumlah 100 Kepala Keluarga (KK), terlihat hampir 80 persen tetap mendukung lahan tanah milik mereka diukur guna mendapatkan hak miliknya tanpa dipungut biaya (gratis).

Kami masyarakat Dusun 4 Desa Kota Galuh tidak merasa resah dan keberatan atas pengukuran tanah yang ditempati ratusan tahun ini.

Dan kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menjembatani proses penyelesaian yang status tanah kami yang kami tempati ini, ucap Riduanto, perwakilan masyarakat sekitar.

Riduanto juga membantah jika warga Dusun 4 Desa Kota Galuh sangat resah terkait pengukuran lahan tanah secara tiba- tiba.

Senada juga dikatakan Tokoh Masyarakat Dusun 4 Desa Kota Galuh, Aeng Dombo, bahwa hingga saat ini, warga Dusun 4 Desa Kota Galuh tidak ada keberatan terkait adanya pemberitaan yang menyatakan warga Dusun 4 Desa Kota Galuh resah atas pengukuran lahan tanah yang di ukur secara tiba – tiba.

Sekali lagi, sambung Aeng, mereka masyarakat Dusun 4 Desa Kota Galuh tidak merasa resah terkait hal tersebut. Bahkan kami sudah sepakat dalam hasil musyawarah seminggu yang lalu tepatnya pada malam Sabtu, katanya.

“Kami tetap mendukung sepenuhnya atas pengukuran lahan tanah yang hampir sekian abad yang belum pernah adanya penyelesaian. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang sudah menjembatani proses penyelesaian status tanah ini,” ucap Aeng Dombo.

Sementara itu, Kepala Dusun 4 Martono Andi mengatakan kalau responnya,  awalnya  tidak memiliki dasar untuk menjelaskan kepada warga hingga atasannya (Kepala Desa – red) untuk memberikan klarifikasi, bahwasanya pengukuran ini arahnya kemana.

“Pada hari ini setelah dimusyawarahkan, dan didiskusikan dan masing – masing sudah membuka dasar pengukuran tadi seperti apa, tujuan kemana dan yang kami terima saat ini adalah tujuannya baik dan tidak dipungut biaya apapun. Pada saat itu saya khawatir adanya penguatan biaya pengukuran, namun hari ini tidak ada dipungut biaya,” kita Martono.

Di samping itu, sambung Hartono, mereka juga tidak mau menyampingkan aturan yang ada. Saya selaku kepala dusun ingin mengikuti aturan yang ada pada dasarnya pengukuran itu harus ada dasar pengukurannya.

“Hari ini saya sudah mengetahui  dan ada surat surat legalopini artinya saya ingin menjelaskan kepada kepala desa agar hal ini jelas,” ungkapnya.

“Saya ucapan terima kasih atas kehadiran tim kuasa hukum yayasan keluarga wakaf (pemilik lahan -red) dan pihak terkait, yang mana telah membantu menjembatani dalam proses penyelesaian lahan tanah ini yang sudah sekian abad belum selesai,” pungkasnya.

Sementara itu, Yayasan Keluarga Wakaf Darwinsyah yang diketuai H Tengku Zafrul Bahar (Tengku Ong) melalui kuasa hukumnya Rustam Efendi SH, CPCLE didampingi Tardas Zulfadli Simamora SH mengatakan, bahwa wakaf ini itu bukan tanahnya tapi adalah hasil dari pengelolaan tanah tersebut. Artinya pihak yayasan sudah mengambil inisiatif bagaimana supaya wakaf ini terus berjalan ataukah akan dialihkan ketempat yang lain dan bagaimana terbaiknya, katanya.

“Kami mewakili keluarga ahli waris menawarkan solusi yang terbaik, bagaimana kita menyelesaikan permasalahkan sudah yang hampir ratusan tahun arti nya kami tidak terlalu melebar luaskan permasalahan ini, bagaimana kita bisa duduk bersama untuk mencari jalan terbaiknya,” ucap Rustam Efendi.

Ia menambahkan, setelah mereka menerima kuasa, selanjutnya mereka  menjumpai tokoh masyarakat Dusun 4 Desa Kota Galuh, tentang bagaimana teknis dari penyelesaian permasalahan ini. Artinya, bahwa di satu segi kami sebagai kuasa hukum dari keluarga ahli waris menginginkan bagaimana wakaf itu terus berjalan dan tidak merugikan pihak yang ada, tapi wakaf terus berjalan, ujarnya.

Artinya, itu adalah yang namanya wakaf adalah niatan dari orang yang sudah tidak ada. Jadi bagaimana kesepakatan  terus berjalan dan wakaf terus dikelola bagaimana kita mencari solusi supaya yang ada disini tidak ada dirugikan, tambahnya.

Makanya, sambung Rustam, pihaknya sepakat dan duduk bersama, mencari formulasi, bagaimana penyelesaian permasalah tersebut. Intinya kita ingin mencari jalan terbaiknya, ungkap kuasa hukum ahli waris.

Ditambahkan, bahwa pengukuran itu kemaren dilakukan setelah adanya diskusi antara mereka selaku pihak kuasa hukum ahli waris Tengku Darwinsyah yang sekarang diwakili oleh ahli waris Tengku Zafrul Bahar (Tengku Ong), selaku ketua yayasan. Kemudian kami jumpa dengan salah tokoh masyarakat dusun 4 Desa kota Galuh ini, ujarnya.

Bahwa perlu kita sampaikan, pada saat itu kami datang kesini bukan untuk berperang ataupun ribut seperti sebelum – sebelumnya, namun kita cari apa yang menjadi solusi supaya jelas antara kedua pihak antara ahli waris dengan warga sekitar yang tinggal disini tidak dirugikan, tambah kuasa hukum ahli waris, Tardas Zulfadli Simamora SH

Menurutnya, bahwa kedatangan merela untuk mencari jalan solusi, bagaimana baiknya atas hak di Desa Kota Galuh ini terutama Dusun 4. Dan kebetulan juga kita sampaikan diskusi ke Pemerintah adanya niat baik guna membantu supaya hak kejelasan atas hak di kota galuh ini supaya jelas dan bagaimana kita lakukan.

“Misalnya penyelesaian, jika pengukuran belum mengetahui. Ini ada data jadi proses pengukuran itu kita lakukan untuk mengetahui seberapa luas berbatasan siapa ke siapa jadi jelas dia ukuranya,” tegasnya.

Sehingga kita bisa berproses selanjutnya apa yang terbaik kepada kedua belah pihak, jika misalnya ada yang resah atau  oknum yang resah saya rasa kami dari kuasa hukum ahli waris pihak yayasan tidak ada perlu yang diresahkan disini kita untuk mencari apa yang terbaik dari kedua belah pihak, tutupnya.

 

(ML.hrp)