Tiga Caleg Partai Demokrat Kompak Gelar Lomba Maragat Pohon Aren di Parapat

0
324
Hinca Panjaitan, Caleg DPR RI Dapil (III) Sumut (kanan), Saut Bangkit Purba, Caleg DPRD Sumut dari Dapil Sumut 10, meliputi Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun (tengah), dan Mansur Purba, Caleg DPRD Kabupaten Simalungun Dapil 6 (kiri), yang memprakarsai festival paragat tuak di Parapat. (Foto/Stg)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Simalungun (Sumut)

Tiga  calon anggota legislatif (Caleg) dari partai berlambang mercy (Demokrat,red) menggelar lomba maragat pohon aren atau biasa disebut paragat tuak dan juga lomba kuliner (Naniura) atau tambul ni tuak, di Open Stage Parapat, kelurahan Tiga Raja, kecamatan Girsang Sipang Bolon, Kabupaten Simalungun, Sabtu (6/4/2019).

Ketiga Caleg tersebut, yaitu Hinca Panjaitan, Caleg DPR RI Dapil (III) Sumut, Saut Bangkit Purba, Caleg DPRD Sumut dari Dapil Sumut 10, meliputi  Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, dan Mansur Purba, Caleg DPRD Kabupaten Simalungun Dapil 6.

Kegiatan yang baru pertama kalinya digelar di kota wisata Parapat ini, disambut antusias oleh warga dan khususnya para paragat tuak yang datang dari berbagai penjuru se- kawasan Danau Toba.

Jasosman Purba, salah satu peserta lomba paragat, dan yang pertama mempraktekan bagaimana maragat tuak, mengatakan, ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa proses dan waktu yang dibutuhkan selama memulai penyadapan atau maragat, katanya.

Proses yang ditunjukannya, menggambarkan kesulitan yang harus dilalui. Mulai menyiapkan ‘sige’, sebatang bambu yang dijadikan tangga untuk naik ke pohon tuak dan bagimana pun, kondisi cuaca tuak harus dilihat, baik hujan atau tidak. Karena jika tuak tadi disadap secara rutin, maka keesokan harinya tidak akan meneteskan airnya, katanya.

Hinca Panjaitan, Caleg DPR RI Dapil (III) Sumut (kanan), Saut Bangkit Purba, Caleg DPRD Sumut dari Dapil Sumut 10, meliputi Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun (tengah), dan Mansur Purba, Caleg DPRD Kabupaten Simalungun Dapil 6 (kiri), saat membuka festival paragat tuak di Parapat. (Foto/Stg)

Kalau tuak sudah enggan meneteskan airnya, maka harus ada ritual yang disampaikan, tambahnya.

Menurut cerita kearifan lokal yang disampaikan para paragat itu, pohonnya harus dibujuk atau dielek agar mau menetes kembali. Apalagi, pohon tuak diyakini berasal dari seorang wanita dari sisi kearifan lokal, sehingga tuak harus dirayu seperti merayu seorang wanita, ujarnya.

Peserta lainnya, Lasman Sidauruk yang juga sehari-hari maragat tuak menceritakan proses hingga kesulitan menyadap tuak.

“Ini pisau untuk manappul atau pemotong tangan tuak. Lalu ada balbal.  Pertama-tama, kita tengok dulu, apakah dia sudah bisa dibersihkan atau tidak. Lalu kita cari bambu untuk sige ke atas,”jelasnya.

Sebelum disadap, tangan tuak harus dibersihkan terlebih dahulu.  Kemudian baru bisa dipukul pakai pentungan dengan cara berirama, dan memukul juga harus bertahap. Dalam seminggu, harus dipukul atau ‘dibalbal’ sebanyak 7 kali. Proses memukul (membalbal) juga harus dilakukan selama tujuh minggu, katanya.

Peserta lomba paragat tuak. (Foto/Stg)

“Itulah pelerjaan saya sehari-hari. Jadi inilah kami, jadi kalau paragat susah sedih, walau hujan harus kami maragat. Jadi kalau tidak tiap hari kami maragat, pohon tuak jadi tidak berair. Karena inilah sumber penghidupan kami,”ujar Lasman.

Dia juga menjelaskan, maragat tuak harus dikerjakan dengan baik dan tentunya dengan hati yang baik pula. Dan tidak bisa pelit dan harus menjaga kebersihan penampung air tuak, hingga kebersihan diri, sebelum naik ke pohon tuak, katanya di hadapan 3 orang dewan juri, yakni Daniel Gurning, Dongan Simbolon dan Anggiat Soden Siahaan.

Caleg DPR RI nomor urut satu, Hinca Panjaitan, mengatakan, bahwa kegiatan festival maragat tuak ini, demi mengangkat drajat dan martabat dari masyarakat yang berprofesi sebagai paragat.

“Kami bertiga berikhtiar untuk hal-hal yang paling terkecil. Bagi kami bertiga, politik itu nomor dua. Nomor satu masalah budaya. Budaya itu sesuatu yang harus terus menerus kita  perjuangkan dan dengan cara politik lah, kita bisa memperjuangkanya, “katanya.

Dia juga mengatakan,  diantara sekian banyak elemen budaya, ada kata yang sakral bagi kami bertiga, namanya Paragat.

Peserta lomba paragat tuak. (Foto/Stg)

Paragat ini adalah profesi yang sangat mulia. Tanpa sekolah pun, bisa jadi paragat. Dia (paragat,red) sekolah di alam, belajar di alam dan dia bertahan di alam itu. Dan apa yang kami saksikan dan apa yang kami dengarkan, tidak ada yang peduli dengan paragat, maka kami hadir untuk itu, ujar Sekjen Partai Demokrat ini.

Hal senada juga disampaikan Saut Bangkit Purba. “Seperti apa yang sudah disamapikan bang Hinca tadi, kami selalalu berikhtiar, bahwasanya kita bisa mengambil segi positifnya. Bahwa warung tuak itu adalah sumber inspirasi. Berbicara profesi, banyak masyarakat kita yang menekuni profesi sebagai paragat tuak. Tapi bagaimana paragat ini benar-benar  bisa jadi sumber penghidupan yang layak, sepanjang ‘tuak takkasan digunakan seperti  warisan leluhur kita, maka akan membawa dampak baik. Tetapi kalau sudah berlebihan, pasti tidak baik. Melalui festival paragat ini, kita harapkan dapat merubah perspektif  tuak menjadi lebih baik, “harapnya.

Dan sudah saatnya kita menjadikan tuak, jadi minuman khas Danau Toba, tambahnya.

Baca juga : Dari Festival Maragat Tuak di Parapat, Ini Para Juaranya

Hal senada juga disampaikan Mansur  Purba, bahwa  paragat itu sebenarnya telah berjasa melestarikan budaya Batak, yakni maragat untuk menghasilkan minuman khas batak, berupa tuak.

Kegiatan ini kita adakan untuk mengangkat derajat paragat, sehingga nilai tuak hasil agatan mereka bisa lebih tinggi dari harga rata – rata yang sekarang ini mereka dapatkan. Intinya, kita berusaha membantu  dan mensejahterakan paragat, sehingga mereka tetap setia menjadikan pekerjaan maragat ini sebagai pekerjaan sehari – harinya dan mereka harus bangga menjadi seorang paragat, kata Caleg nomor urut satu ini.

(Stg)