Tiga PNS Sergai Jadi Saksi Sidang Korupsi Pasar Wasera Sergai, Hakim: Sudah 14 Tahun Kasusnya

0
3
Tiga ASN Sergai saat disumpah sebelum bersaksi dalam sidang dugaan korupsi pembangunan pasar/waserda Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai, yang menjerat Direktur PT. Duta Utama Sumatera M. Umbar Santoso di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (13/6/2022). TRIBUN MEDAN / GITA
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Sidang dugaan korupsi pembangunan pasar/waserda Dolok Masihul Kabupaten Serdangbedagai, yang menjerat Direktur PT. Duta Utama Sumatera M. Umbar Santoso terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (13/6/2022).

Dalam sidang agenda pemeriksaan saksi tersebut, Tim Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Ardiansyah Hasibuan dari Kejari Sergai menghadirkan tiga ASN Sergai sebagai saksi, diantaranya Samuel Tampubolon, Wahyudi Umara, dan Yudi Irawan selaku pengawas lapangan dari Dinas Perkim Sergai.

Dalam sidang tersebut, Majelis Hakim yang diketuai Immanuel Tarigan menanyakan perjalanan perkara ini kepada saksi Samuel Tampubolon, hingga diketahui bahwa perkara ini sudah berumur belasan tahun.

“Apa yang kamu ketahui tentang perkara ini hingga terdakwa Umbar diadili,” tanya hakim.

Lantas saksi mengatakan bahwa adanya dugaan korupsi dalam pembangunan pasar waserda Kecamatan Dolok Masihul.

“Berdasarkan surat kejaksaan, terdakwa masuk DPO terkait pembangunan pasar tahun 2008 pak. Saat itu anggaran untuk fisik Rp 3 miliar, terdakwa tercatat sebagai Direktur PT. Duta Utama Sumatera selaku pelaksana,” ujarnya.

Mendengar hal tersebut, Majelis Hakim pun menyentil Jaksa terkait kerugian keuangan negara hingga lamanya proses persidangan.

“Kerugian keuangan negaranya kurang lebih Rp 300 juta? berapa miliar lah negara habis menyelidiki perkara ini. Ini udah 14 tahun lo dan terdakwa lainnya sudah ada yang bebas bahkan meninggal dunia ya kalau tidak salah,” ucap hakim dan dibenarkan jaksa.

Saksi Samuel mengatakan dalam perkara ini, pihaknya ada menemukan pengurangan volume dalam pembangunana pasar tersebut.

“Berdasarkan kegiatan berjalan sesuai dengan apa yang di dalam kontraknya, tapi belakangan ternyata ada beberapa kekurangan volume. Yang saya ingat ada pemasangan rolling dor, dan keramik, memang terpasang tapi ternyata luasnya tidak seuai dengan RAB,” ucapnya.

Ia mengatakan hal tersebut belakangan diketahui usai Tim Kejaksaan melakukan pengukuran ulang ke lokasi.

“Akibatnya ada kerugian keuangan negara, sepengetahuan saya lebih kurang sekutar Rp 200 juta,” bebernya.

Sementara itu saksi Wahyu mengatakan, meski ada temuan kekurangan volume pekerjaan, terdakwa selaku pelaksana tidak ada etikat baik mengembalikan kerugian tersebut.

“Terdapat selisih volume yang banyak. Dan sepertinya tidak ada etikat dari pelaksana mengembalikannya yang mulia,” pungakas saksi.

Usai mendengar keterangan saksi, terdakwa yang mengikuti sidang secara daring pun membenarkan.

“Iya benar Majelis,” pungkasnya.

Selanjutnya Majelis Hakim menunda sidang pekan depan agenda pemeriksaan saksi lanjutan.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya bahwa JPU Ardiansyah Hasibuan dalam dakwaannya menuturkan, bahwa terdakwa diduga melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Serdang Bedagai Aliman Saragih (telah divonis bersalah).

Dikatakan JPU bahwa perkara ini bermula berawal dari pengajuan proposal pembangunan pasar di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai yang diajukan oleh Bupati Sergai melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan KoperasiKabupaten Serdang Bedagai (Disperindagkop) pada tahun 2008.

“Kemudian proposal itu disetujui oleh Pemerintah Pusat melalui Departemen Perdagangan RI dan menampung anggaran tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2008 sebesar Rp 3 miliar, dengan ketentuan pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai menyediakan lahan untu pembangunan dan tambahan dana (dana sharing) sebesar 10.

 

Sumber : tribunnews.com