Virus Corona vs Sistem Kekebalan Tubuh, Ini Kata Anisa

0
265
Anisa Antiwi Safitri, mahasiswi UINSU.
Dijual Rumah

Sergai, buktipers.com – Sejak wabah virus corona merebak, banyak orang mulai mempelajari segala sesuatu tentang virus ini, terutama cara penyebarannya.

Hal ini bertujuan agar serangan virus corona dapat dihindari. Namun, tahukah kamu, bahwa orang yang sudah terinfeksi virus bisa saja tidak menunjukkan gejala sama sekali dan terlihat sehat-sehat saja. Akibatnya, kamu jadi tidak tahu siapa yang sudah terinfeksi virus dan siapa yang belum, sehingga menyulitkan tindakan pencegahan.

Anisa Antiwi Safitri, salah satu perwakilan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), sebagai pengamat perkembangan Covid-19 saat berkunjung di Desa Pematang Guntung, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Sergai, Senin (10/8/2020), sekitar pukul 16.15 WIB mengatakan, dampak virus corona pada tiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang tidak menunjukkan gejala sama sekali setelah terinfeksi virus, dan ada juga yang hanya menunjukkan gejala ringan. Tetapi tidak sedikit juga orang yang langsung sakit parah setelah terinfeksi virus corona. Hal ini membuat kita mungkin bertanya-tanya, sebenaranya bagaimana cara virus corona menyerang tubuh manusia.

Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang selalu memantau dan memeriksa apabila ada sel-sel aneh, maupun kuman yang masuk untuk menyebabkan penyakit.

Ketika sistem kekebalan tubuh menemukan sebuah sel atau mikroorganisme yang dianggap berbahaya, maka sistem ini akan langsung bereaksi. Begitu juga ketika penyerang seperti virus corona masuk kedalam tubuh, sistem kekebalan biasanya langsung mengaktifkan respon imun bawaan untuk melakukan perlawanan biasa pada virus, sampai sistem tersebut bisa menggerakkan respon imun adaptif yang lebih hebat dalam melawan virus.

“Garis pertahanan kedua ini dapat memberikan perlawanan secara menakjubkan yang melibatkan pembuatan sel pembunuh yaitu sel T, ” bilang Anisa.

Lanjut Anisa, seperti jenis virus apapun pada umumnya, virus corona baru ini atau COVID-19 juga bersifat bebas dan narsis. Virus ini ingin membuat sebanyak mungkin replika dirinya. Virus corona menginvasi tubuh dengan cara menempel di sel-sel tubuh kamu, menyuntikkan RNA (Ribonucleid acid-nya) dan mengubah sel tubuh menjadi virus juga yang akan mereproduksi kembali dirinya sendiri menjadi lebih banyak virus.

Tubuh juga memiliki sistem yang disebut jalur interferon, yang berfungsi untuk mengirim sinyal minta tolong dari sistem kekebalan ke sel, ataupun sebaliknya. “Nah, virus corona akan berusaha keras untuk membungkam jalur tersebut, sehingga virus bisa bertumbuh dengan tenang. Bila kamu berhasil mengeluarkan sinyal tersebut tepat waktu, maka tubuhmu dapat mematikan virus corona dan membuat respon imun yang sangat baik.

Namun, bila tubuh membuat respons yang salah, virus corona yang akan menang.

Orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah harus lebih berhati-hati lagi terhadap virus corona, karena tubuh mereka mungkin sulit menciptakan respons imun yang seimbang untuk melawan virus. Seseorang bisa memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena pernah mendapatkan pengobatan kanker, atau melakukan transplantasi organ atau positif mengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Bukan berarti kamu yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik tidak perlu berhati-hati terhadap virus corona, karena virus jahat ini juga bisa mengakibatkan dampak yang serius. Gejala pernapasan yang seringkali menyertai penyakit ini, terutama dalam kasus yang parah, terjadi karena tubuh kamu berusaha melindungi dirinya sendiri. Ketika virus menginfeksi bagian tengah ke bawah paru-paru, yang mana hal ini suka dilakukan oleh virus ini, maka tubuh akan mengirimkan sel-sel untuk menghentikannya.

Tubuh akan mengambil kebijakan membumi hanguskan di mana sel-sel tersebut akan melewati paru-paru dan mencoba menghancurkan virus, sekaligus jaringan yang sehat. Hal ini karena bila tidak ada sel sehat yang tersisa, maka virus tidak bisa berbuat apa-apa.

Meskipun tindakan yang dilakukan sistem kekebalan tubuh tersebut dapat melindungi kamu dari invasi virus, tetapi hal ini juga dapat mengurangi kapasitas paru-paru kamu. Itulah mengapa banyak pengidap infeksi virus corona yang parah akan mengalami gejala pernapasan yang hebat hingga membutuhkan alat bantuan untuk mendapatkan ekstra oksigen ke paru-paru.

Pemikiran bahwa agar dapat terhindar dari corona atau dapat melawan virus corona dengan baik, maka kamu perlu meningkatkan sistem kekebalan tubuh semaksimal mungkin, sebenarnya tidak terlalu tepat juga. Hal ini karena bila sistem kekebalan terlalu berenergi, maka mungkin saja dapat mengakibatkan tubuh untuk menyerang dirinya sendiri, seperti yang terjadi pada kasus autoimun.

“Jadi, yang perlu kamu lakukan hanyalah memastikan setidaknya sistem kekebalan tubuh dalam kondisi yang optimal dengan makan-makanan yang sehat, cukup beristirahat dan rajin berolahraga, ” tutup Anisa.

(ML.hrp)