Warga Kecamatan Girsip Geram terhadap Pemutusan Listrik yang Dilakukan Petugas PLN

0
179
Kantor PLN Rayon Parapat.
Dijual Rumah

Simalungun, buktipers.com – Warga Kecamatan Girsang Sipangan Bolon (Girsip), Kabupaten Simalungun, mengaku geram dan jengkel atas tindakan para petugas PLN Rayon Parapat.

Masalahnya, petugas PLN tersebut, diduga melakukan pemutusan meteran listrik, bila pelanggan telat membayar rekening dengan hitungan hari.

MP Siahaan (54), salah seorang pelanggan mengatakan, belum lama ini, petugas PLN, datang ke rumahnya, dengan nada mengancam akan mencabut dan memutus sambungan meteran (kWh) listrik, di rumahnya, bila telat membayar tagihan listrik di atas tanggal 20.

“Jadi kedepan, kalau memang ada tunggakan listrik pelanggan, tolong diinformasikan kepada warga. Begitu juga pemutusan supaya dihentikan sementara. Dan pernah saya alami,  lewat tanggal 21 bayar rekening listrik, langsung diputus oleh PLN. Gimana kalau masyarakat kebetulan saat itu tak ada uang, apakah harus diputus? Hal itu jelas kita tak terima.  Jadi tolong kepada PLN, supaya ini direvisi kembali dan coba ditinjau dulu. Yang menjadi pertanyaan, bila arus PLN padam (mati), apakah pernah masyarakat bertindak? Seharusnya ada timbal balik,”ungkap MP Siahaan.

Hal yang sama juga pernah dialami Linda br Silitonga, warga Parapat (Terminal Sosor Saba).

Diceritakannya, beberapa bulan yang lalu, aliran listrik di rumah mereka, juga pernah mengalami pemutusan sementara dan kejadian itu, sangat disesalkannya.

“Saya menyesalkan tindakan para petugas PLN tersebut,”ungkapnya.

Pelanggan PLN lainnya, Ture Marlina Sijabat, warga Nagori Sibaganding, juga menyampaikan hal yang sama.

Rumahnya juga pernah mengalami pemutusan sambungan listrik, beberapa bulan yang lalu.

“Kalau perbuatan itu, memang kita enggak terima. Karena apa pun alasannya, setiap program yang dilakukan oleh PLN  harus disosialisasikan  dulu kepada masyarakat. Sehinga masyarakat tau apa yang merupakan kewajibannya. Hal seperti itu, jelas memberatkan masyarakat (pelangan),”ucapnya.

Warga lainnya, marga Manurung yang ditemui di Terminal Sosor Saba Parapat mengatakan “Apabila PLN tetap diktator, maka warga akan musyawarah untuk aksi demo ke kantor PLN Rayon Parapat. Jadi kita minta PLN dan masyarakat duduk bersama untuk membicarakan jalan terbaik, terkait keterlambatan pembayaran listrik,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Rese Buru Situmorang (61). Kepada buktipers.com, dikatakannya, bahwa dirinya sangat keberatan dengan tindakan para petugas PLN Rayon Parapat.

Para petugas PLN yang melakukan pemutusan listrik tanpa ada memberi surat tuguran tertulis kepada masyarakat, namun sudah langsung diputus, katanya kesal.

“Masyarakat itu bukannya tidak mau membayar, namun jika terlambat dikasih lah tenggang waktu, dengan memberi surat tertulis, agar masyarakat itu tau, bahwa mereka sudah terlambat. Sedankan hukuman mati aja ada tolenransi,”kata Rose.

Keika dikonfirmasi, Kepala PLN Rayon Parapat, Hans Siregar melalui WA pribadinya mengatakan “Terkait perihal tersebut semuanya sudah sesuai dengan prosedur/SOP peraturan di PLN. Terimakasih,”jawabnya.

(Stg)